Menelaah Jawara Banten Sebagai Tombak Kebudayaan Indonesia

Jawara banten

Jawara Banten adalah salah satu seni khas bangsa kita. Banten yang dikenal dengan kebudayaan yang masih sangat kental dan asli. Penduduk lokal yang masih menjunjung tinggi kebudayaan asli, entah itu dari kesenian tari sampai seni bela diri. Salah satu eksitensi kebudayan kental banten adalah para jawara yang masih memegang teguh keaslianya.

Ada pula kelompok suku badui yang benar benar masih menjaga nilai kebudayaan suku di jaman serba modern seperti sekarang ini. Berbicara tentang sejarah kebudayaan banten tentang bagaimana jawara hidup dan berkembang memang akan sangat panjang. Di artikel singkat ini mari kita bersama sama menelaah tentang para jawara dan sejarah singkatnya yang dari dulu menjadi tombak kebudayaan bangsa kita, Indonesia.

Sejarah Singkat Jawara Banten

Jika kita menelaah dengan detail tentang sejarah Jawara Banten, mungkin anda akan bosan dalam membacanya. Panjanganya sejarah yang bisa di ungkap memang sudah sewajarnya, mengingat jawara Banten sangat di kenal di masyarakat banten sendiri bahkan Indonesia. Disini kita akan membahas secara singkat.

Kemunculan jawara bukanlah kemunculan sosok kemarin sore, mereka sudah ada dan berkembang sejak pada kerajaan sunda, dan bahkan hingga pada jaman modern seperti sekarang ini, eksitensi mereka masih mencuat di permukaan. Bahkan di Banten sendiri sekitar abad ke 19, keberadaan jawara menjadi sosok elit di masyarakat.

Di Banten, keberadaan jawara memang masih kalah dengan ulama. Tetapi kenyataan di lapangan para ulama dan jawara berjalan berdampingan dan mendapatkan porsi tempat terhormatnya sendiri. Keberadaan mereka sudah di anggap oleh masyarakat sebagai dua sisi mata uang logam. Sebagian dari mereka bahkan percaya bahwa jawara adalah khodamnya para ulama.

Dalam perjalanan waktunya, sosok jawara mendapatkan nilai tersendiri di pola pikir masyarakat dahulu hingga sekarangan, ada yang positif ada pula yang berfikir negatif. Hal ini karena sepak terjang para jawara yang sempat mengambil alih perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian barat. Masa masa itu adalah pada masa kerjaan Sunda, Kesultanan Banten, dan pada masa kolonial Belanda.

Dan pada akhir akhir ini karakter jawara itu sendiri dikenal dengan karakter kekerasan yang berhubungan dengan seni bela diri. Terkontaminasinya nama baik jawara memang tidak lepas dari pencitraan yang buruk yang dilakukan oleh para jawara sekarang ini. Mereka bahkan mengelompokan diri dengan kultur dan gaya berbicara yang khas.

Bahkan masyarakat banten menganggap hal itu termasuk dalam premanisme. Kesan yang seperti itu selalu muncul juga karena peran dari para ahli dan memiliki ilmu yang digjaya yang menganggap diri mereka adalah seorang pendekar, bukan  jawara.

Penafsiran Singkat Sejarah Jawara

Penafsiran sejarah Jawara Banten di bagi empat. Ini adalah ringkasan singkat catatan seorang sejarahwan di kabupaten Lebak, Miftahul Falah, S.S. Penafsiran pertama adalah kerajaan Sunda dengan gamblang menggunakan beberapa kelompok masyarakatnya sebagai media penghubung antara sanga raja dengan masyarakat.

Dalam kasus ini adalah para jawara. Mereka diminta oleh pihak kerajaan sebagai pemegang kewenangan soal urusan melayani raja dan rakyat dan juga melindungi mereka. Penafsiran yang kedua adalah ketika kaum jawara lahir pada jaman Kesultanan Banten, yang pada saat itu dipegang oleh sultan yang bernama Maulana Hasanuddin. Pada saat itu, untuk melawan pasukan padjajaran yang memang sangat kuat, sultan memilih dan membentuk kelompok kuat baik lahir maupun batin. Pada saat itu lahirlah Jawara.

Penafsiran ketiga adalah ketika dibentuknya perkumpulan yang bernama Orok Lanjang pada sekitar tahun 1931 oleh sekolompok pemuda banten. Orok Lanjang yang secara harfiah berarti bayi yang sedang beranjak dewasa. Penafsiran terakhir lahirnya jawara adalah ketika pada jaman kolonial Belanda pada abad 19 yang secara mengejutkan digerakan oleh kaum ulama.

Sejarah terbentuknya jawara memang di dasari oleh pengaruh ulama pada saat itu. Para ulama memiliki dua kelompok pada saat itu. Kelompok pertama adalah para santri yang nantinya akan menggantikan peran ulama itu sendiri. Kelompok kedua adalah mereka yang bisa menguasai ilmu bela diri dan pencak silat. Kelompok kedua ini benar benar di bina kemampuan fisiknya untuk melawan kolonial Belanda pada waktu itu.

Jawara Banten di Era Modern

Para jawara Banten masih tetap mengokohkan eksitensinya sampai sekarang setelah melalui sejarah yang sebenarnya masih sangat panjang untuk di untai. Eksistensi yang di lakukan beberapa kelompok Jawara di Banten adalah melalui olahraga bela diri dan mengikuti beberapa kompetisi nasional sampai internasioanal.

Namun akhir – akhir ini, prestasi yang di dapat untuk gelar jawara di Banten sangatlah minim prestasi. Pengelolaan yang masih acak adul mungkin menjadi penyebab utama bobroknya kesenian bela diri legenda ini. Untuk menanggulangi hal tersebut para peguron (guru silat) akan segera mengembangkan prestasi yang tidur sejak lama dan meminta dukungan penuh pada pemerintah untuk mengadakan fasilitas dan kesejahteraan pagi para Jawara.

Ternyata saran tersebut sekarang mulai disambut dengan sangat positif oleh pihak KONI. Untuk memaksimalkan sepak terjang para Jawara dan lebih dikenalkan lagi peran seni bela diri Banten kepada masyarakat luar, pemerintah bersedia memberikan fasilitas maksimal untuk hal tersebut.  Para peguron juga berjanji akan lebih sering memberikan pelatihan khusus agar nantinya bisa menjuarai PON dan lahir kembali menjadi kesenia bela diri yang sangat kaya bagi bangsa kita. Itulah beberapa sejarang singkat tentang para Jawara Banten dan kelangsungan eksitensi hingga detik ini.

Baca juga: Wisata pantai karang bolong banten

You May Also Like

About the Author: putrabanten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *