Ingin Berwisata ke Banten? Kontak Exclusive Travelindo

  • Telp : (0254) 227088
  • Hp: +62812 820 67070 / +62878 7137 1170
  • Pin BB: 536E2CAB
  • Email: exclusivetravelindo@gmail.com
Menu

Mengenal Sosok Sultan Ageng Tirtayasa

March 5, 2016 | Sejarah Banten

Sultan ageng tirtayasa banten
Sultan Ageng Tirtayasa merupakan seorang pahlawan nasional dari provinsi Banten. Lahir pada tahun 1631, ia menciptakan masa keemasannya saat memimpin tahta kesultanan Banten sejak tahun 1651. Semasa pemerintahannya, Sultan Ageng Tirtayasa dikenal sebagai pemimpin intelektual yang idealis dan mengedepankan kepentingan rakyat.

Ia pun melakukan banyak perlawanan terhadap Belanda. Pemberontakannya diawali dengan menolak perjanjian paksa monopoli perdagangan yang ditawarkan VOC karena dirasa merugikan kesultanan Banten. Ia justru menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka sehingga menjadi wilayah yang sangat maju pada saat itu.

Teladan Sultan Ageng Tirtayasa dalam berbagai bidang

Sejak kecil, sosok Sultan muda dikenal masyarakat sebagai pribadi beragama yang mencintai seni budaya. Ia menguasai permainan wayang wong dan sasaptonan, permainan di kalangan rakyat dan bangsawan yang sangat digemari pada saat itu. Ketika memperoleh gelar raja Banten, ia pun dikenal cerdas dan menjunjung tinggi pendidikan.

Dari berbagai segi, Sultan Ageng tampak unggul melalui kepemimpinan yang amanah dan membangun. Dari segi diplomasi, ia melandaskan prinsip saling menguntungkan baik dalam bentuk politik maupun ekonomi. Dari segi kemanusiaan, jiwa sosialnya peka terhadap ketidakadilan dan berani memperjuangkan nilai kebenaran yang dianutnya.

Berkat kedaulatan yang diusungnya, kesultanan Banten pada masa pemerintahan Sultan Ageng sangat disegani sekaligus memiliki pengaruh besar dan luas hingga mancanegara. Cara berpikirnya pun inovatif, dalam sejarah disebutkan bahwa beliau membuat sebuah gebrakan dengan melakukan tranformasi budaya demi pembangunan fasilitas daerah yang lebih maju.

Beliau berinisiatif mendatangkan arsitek asal Tiongkok bernama Cakradana untuk mengubah dasar bangunan yang awalnya menggunakan kayu dan bambu menjadi batu beton. Bahkan untuk mengembangkan sistem pengelolaan air bagi irigasi dan pembuatan bendungan, ia tidak ragu mendatangkan seorang konsultan asal Belanda yang saat itu teknologinya sudah jauh lebih maju. Hasilnya, bukan hanya bidang pertanian yang berkembang pesat, jalur tranportasi air, perekonomian, serta pertahanan negara pun semakin menguat.

Sultan Ageng tidak hanya cerdas dan berwawasan terbuka dalam menerima kemajuan teknologi, ia juga andal dalam melakukan strategi perang. Sejak lama ia telah melancarkan strategi perang tersembunyi lewat politik ekspansi melalui perbesaran jalur perdagangan Banten dan pengaruh kekuasaan mulai dari Priangan hingga memasuki Batavia untuk menekan perluasan kekuasaan Mataram sekaligus VOC. Di dalamnya, ia juga meningkatkan diplomasi politik dan perdagangan dengan banyak negara asing untuk memperkuat angkatan perang.

Di bidang keagamaan, perhatiannya sangat besar dalam pendidikan serta penyebaran agama islam. Ia bukan hanya mendirikan pesantrren di lingkungan kesultanan, tapi juga di tengah masyarakat. Bahkan untuk membina mental prajurit, ia sengaja mendatangkan banyak guru-guru agama dari berbagai negara islam yang lebih maju. Salah satunya bahkan dijadikan menantu, penasihat, sekaligus guru keagamaan dalam kesultanan Banten.

Masa Pahit Kesultanan

Kejatuhan Sultan Ageng Tirtayasa tidak terlepas dari perebutan kekuasaan yang ditumpahkan darah dagingnya sendiri, Sultan Haji. Sultan Ageng Tirtayasa berkali-kali melakukan penyerangan dan memenangkan pertempuaran terhadap kompeni. Tapi dengan licik, kompeni terus melancarkan tipu daya untuk menjebak Sultan Ageng Tirtayasa agar keluar dari persembunyiannya di hutan, yaitu dengan merayu Sultan Haji untuk membujuk ayahnya pulang.
Setelah bujuk rayu berhasil tanpa ada kecurigaan, Sultan Ageng akhirnya kembali ke istana Surosowan. Di malam yang sama tanggal 14 maret 1683, ia ditangkap kompeni dan dibawa ke Batavia untuk dijebloskan dalam penjara berbenteng. Hingga akhir hayatnya pada tahun 1692, putra Sultan Haji beserta rakyat Banten berhasil membawa pulang jenazah Sultan Ageng Tirtayasa yang lantas dimakamkan di utara masjid agung Banten berdekatan dengan para sultan pendahulunya.

Baca juga: Sejarah Tentang Sultan Hasanudin Banten

Related For Mengenal Sosok Sultan Ageng Tirtayasa