Yuks Kenali Sejarah Kerajaan Banten!

Sejarah kerajaan banten

Seperti yang kita ketahui, Banten merupakan salah satu bukti besarnya kekayaan alam dan budaya Indonesia. Itulah sebabnya, sejarah tidak akan pernah dilupakan karena dengan mengenal sejarahlah maka kita bisa bercermin pada masa lalu untuk membuat masa depan yang lebih baik bagi kehidupan.

Berdasarkan catatan sejarah, Raja Hasanuddin merupakan pendiri Kerajaan Banten. Ia merupakan anak dari Fatahillah atau Sunan Gunung Jati, yakni utusan Raja Demak yang berhasil melakukan penyebaran agama Islam di wilayah Banten. Raja Hasanuddin ini menikah dengan putri Demak, yakni anak dari Sultan Trenggana pada tahun 1552 M. Dari pernikahan itulah maka lahirlah sejarah Kerajaan Banten yang dimulai dengan kelahiran Maulana Yusuf dan Pangeran Jepara.

Perluasan wilayah Banten di bawah kepemimpinan Raja Hasanuddin berhasil mencapai wilayah Lampung, yakni daerah penghasil lada yang pada saat itu menjadi daerah penting dalam dunia perdagangan antarnegara. Raja Hasanuddin sering juga disebut dengan Pangeran Saba Kingking. Sepeninggalnya pada tahun 1570-an, tampuk pemerintahan kemudian digantikan oleh Maulana Yusuf sebagai putera pertamanya. Ia meneruskan politik ekspansi sang ayah dan menargetkan Kerajaan Pakuan Pajajaran sebagai target politiknya.

Setelah itu, muncullah dua persepsi mengenai siapa yang menaklukkan Kerajaan Pakuan Pajajaran itu. Di satu pihak, banyak yang mengatakan bahwa Pakuan Pajajaran berhasil ditaklukkan sebelumnya oleh Raja Hasanuddin. Namun di lain pihak, banyak juga orang yang mengklaim bahwa Maulana Yusuflah yang menaklukkan kerajaan Sunda tersebut sehingga sejarah Kerajaan Banten dianggap bermula dari Maulana Yusuf.

Kekayaan alam dan budaya yang diwariskan oleh Raja Banten tidaklah sedikit. Hal ini juga tidak mudah untuk dilakukan karena Kerajaan Banten mengalami pergulatan kehidupan yang sangat panjang. Jejak sejarah Banten yang dimulai oleh Raja Hasanuddin dan Maulana Yusuf kemudian mengalami keruntuhan pada masa kejayaannya, yakni masa yang dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa.

Pada masa akhir pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, terjadi suatu konflik di istana Kerajaan Banten. Konflik ini disebabkan oleh adanya pertentangan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji mengenai penolakan yang dilakukan Sultan Ageng terhadap VOC. Sultan Haji yang pada saat itu berposisi sebagai Raja Muda menganggap bahwa seharusnya Sultan Ageng tidak menentang VOC.

Pertentangan tersebut kemudian tidak hanya berimbas pada konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji, tapi juga disulut lebih besar dengan taktik VOC yang mengambil celah untuk bisa menang dari keduanya. VOC kemudian melakukan politik devide et impera dengan cara membantu Sultan Haji dalam menentang Sultan Ageng Tirtayasa agar kekuasaan dan kejayaan Banten pada masa itu bisa berakhir. Berhasil meruntuhkan kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Haji ternyata tidak begitu saja mendapatkan tampuk pemerintahan.

Pada tahun 1680, terjadi perang saudara antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji di Kesultanan Banten. Dalam posisi ini, VOC tentu saja berpihak pada Sultan Haji sehingga Sultan Ageng bisa dikalahkan dengan kekuatan yang lebih besar.

Untuk memperkuat posisinya, Sultan Haji dan Sultan Abu Nashar kemudian mengirimkan dua orang utusan untuk meminta dukungan berupa bantuan persenjataan terhadap Raja Inggris di London. Hal ini dilakukan untuk bisa mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa dalam perang saudara yang tengah berlangsung pada saat itu. Kondisi ini tentu saja membuat Sultan Ageng terpaksa mundur dan pindah ke kawasan lain. Sultan Ageng Tirtayasa tidak memiliki pilihan lain selain melarikan diri ke kawasan tanah Sunda.

Namun pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya berhasil ditangkap dan ditahan. Meski begitu, pertahanan Kesultanan Banten pada saat itu masih tetap dipegang oleh puteranya Pangerang Purbaya dan Syeikh Yusuf sehingga VOC kemudian mengirim Untung Surapati yang pada saat itu berpangkat sebagai letnan untuk menjadi utusannya dan bergabung bersama dengan pasukan lain yang dipimpin oleh Letnan Johannes Maurits van Happel. Hal ini dilakukan dalam rangka mengambil alih kawasan Pamotan dan Dayeuh Luhur sehingga kondisi tersebut membuat Syeikh Yusuf tertangkap dan membuat Pangerang Purbaya harus menyerahkan diri kepada mereka.

Bantuan VOC terhadap Sultan Haji tersebut tentu saja tidak diberikan secara cuma-Cuma sehingga Sultan Haji setidaknya harus memberikan kompensasi kepada VOC, yakni menyerahkan wilayah Lampung untuk dijadikan wilayah kekuasaan VOC. Selain itu, VOC juga memperoleh hak untuk memonopoli perdagangan lada yang ada di wilayah tersebut. Lebih dari itu, Sultan Haji juga harus memberikan ganti rugi akibat perang saudara antara dirinya dengan Sultan Ageng Tirtayasa sehingga hal ini membuat Kerajaan Banten benar-benar jatuh dan terpuruk. Apalagi, setelah Sultan Haji meninggal, VOC memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam mengatur Kerajaan Banten pada saat itu.

Beberapa raja di Kesultanan Banten yang selanjutnya berkuasa tidak mampu untuk membangkitkan kembali kejayaannya seperti pada masa Sultan Ageng Tirtayasa sehingga sistem pemerintahan menjadi tidak terkendali dan berbagai konflik pun mau tidak mau muncul di kesultanan.

Dengan mengetahui sejarah kerajaan Banten ini, tentunya akan banyak informasi yang didapat. Dengan begitu, semakin banyak pula khazanah kekayaan kita mengenai wilayah yang ada di Indonesia.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sejarah Kerajaan Banten dimulai dengan pernikahan antara Raja Hasanuddin dan Puteri Demak dengan putera Maulana Yusuf. Selanjutnya, masa kejayaan Kerajaan Banten berada di tangan Sultan Ageng Tirtayasa. Sementara itu, keruntuhan Kerajaan Banten dimulai pada masa Sultan Haji berkuasa. Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Wisata Pulau Umang Banten

You May Also Like

About the Author: putrabanten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *