Kota Blitar, yang menyandang julukan “Kota Patria” dan menjadi Bumi Proklamator tempat peristirahatan terakhir Bung Karno, memiliki karakter yang unik. Kota ini bukan hanya pusat pemerintahan dan ekonomi, tetapi juga destinasi ziarah nasional yang vital. Setiap tahun, jutaan orang datang, memberikan denyut kehidupan sekaligus tekanan tersendiri bagi lingkungan kota.
Selama bertahun-tahun, Kota Blitar dikenal sebagai salah satu kota terbersih di Indonesia, dibuktikan dengan piala Adipura yang kerap diraihnya. Namun, mempertahankan status ini di tengah laju urbanisasi dan volume wisatawan yang tinggi adalah sebuah perjuangan yang tidak pernah selesai. Ada dua tantangan utama yang dihadapi: pengelolaan volume sampah yang terus meningkat dan penjagaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di wilayah kota yang padat.
Tantangan Ganda: Sampah Domestik dan Sampah Wisata
Sebagai kota yang relatif padat dengan lahan terbatas, isu sampah menjadi sangat krusial. Tantangan sampah di Kota Blitar bersifat ganda. Pertama adalah sampah domestik yang dihasilkan dari aktivitas harian permukiman, pasar, dan area komersial. Seiring pertumbuhan penduduk, volume sampah ini terus bertambah, memberikan beban berat pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang memiliki kapasitas terbatas.
Tantangan kedua, yang lebih unik, adalah sampah wisata (tourism waste). Kawasan wisata ziarah Makam Bung Karno dan Istana Gebang menjadi episentrum yang menarik ribuan pengunjung setiap hari, terutama pada musim liburan. Aktivitas wisatawan ini tak pelak menghasilkan volume sampah ekstra yang signifikan, terutama sampah anorganik seperti botol plastik, kemasan makanan, dan kantong kresek. Pengelolaan sampah di zona-zona wisata ini membutuhkan penanganan khusus agar tidak merusak citra kota yang bersih dan tertata.
Solusi “kumpul-angkut-buang” ke TPA sudah tidak lagi memadai. Paradigma harus bergeser ke pengelolaan dari hulu. Di sinilah gerakan “Pilah Sampah dari Rumah” menjadi kunci. Masyarakat didorong untuk memisahkan sampah organik (yang bisa diolah menjadi kompos) dan sampah anorganik (yang bisa disalurkan ke Bank Sampah).
Pentingnya Paru-Paru Kota (RTH)
Tantangan kedua di kota yang terus bertumbuh adalah mempertahankan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Di area urban yang padat, setiap jengkal lahan menjadi berharga. Persaingan antara lahan untuk pembangunan (perumahan, ruko) dan lahan untuk RTH sangat tinggi. Padahal, RTH seperti taman kota, jalur hijau, dan kebun bibit (seperti Kebon Rojo) memiliki fungsi ekologis yang vital.
RTH adalah “paru-paru” yang menyerap polusi udara dari kendaraan. Ia adalah “spons” yang menyerap air hujan ke dalam tanah, mencegah banjir/genangan, dan menjaga ketersediaan air tanah. Selain itu, RTH adalah ruang interaksi sosial yang penting bagi kualitas hidup warga. Mempertahankan RTH sesuai amanat undang-undang adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan kota dan warganya.
Sinergi Pemerintah dan Masyarakat
Mempertahankan piala Adipura dan menjaga kebersihan Kota Patria bukanlah tugas pemerintah semata. Diperlukan sebuah sinergi dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah kota dan seluruh lapisan masyarakat.
Pemerintah, melalui lembaga teknisnya, bertindak sebagai regulator, fasilitator, dan operator. Merekalah yang mengelola TPA, mengoperasikan armada pengangkut sampah, merawat taman-taman kota, dan melakukan pengawasan terhadap pencemaran. Untuk mendukung program-program ini, dlhkotablitar.id menjadi portal informasi utama di mana publik dapat mengakses data, layanan, dan program-program lingkungan yang sedang digulirkan oleh dinas terkait.
Namun, peran masyarakat jauh lebih krusial. Partisipasi aktif dalam memilah sampah, menghidupkan Bank Sampah di tingkat RT/RW, membuat lubang biopori, dan tidak membuang sampah sembarangan adalah kontribusi nyata. Tanpa kesadaran kolektif ini, sistem yang dibangun pemerintah sebagus apapun tidak akan berjalan optimal.
Penutup: Menjaga Warisan, Menjaga Lingkungan
Kota Blitar adalah kota bersejarah yang menjadi kebanggaan nasional. Menjaga kebersihannya adalah bagian dari cara kita menghormati warisan tersebut. Tantangan sampah dan RTH akan selalu ada seiring dinamika kota. Namun, dengan komitmen bersama antara pemerintah dan warganya, Kota Blitar dapat terus membuktikan diri sebagai “Kota Patria” yang bersih, hijau, dan lestari.