Kesenian Debus Banten

kesenian debus banten

Tidak sempurna  kiranya jika seseorang ingin menyelami Banten dengan segala keunikan dan keragaman budayanya tanpa menyaksikan pertunjukan seni Debus. Karena kesenian yang satu ini sudah seperti Ikon kesenian Banten. Pasalnya hampir bisa dipastikan setiap kali diadakan apresiasi budaya, pertunjukan Debus ada didalamnya. Untuk saat ini pertunjukan kesenian Debus dengan mudah bisa ditemui diseluruh wilayah propinsi Banten dari mulai Tangerang, Serang, Pandeglang dan Lebak. Bahkan bisa disaksikan atraksinya di hotel hotel atau di tempat tempat yang menyajikan atraksi kesenian dan budaya Banten.

Bagi yang baru pertama kali menyaksikan pertunjukan seni Debus akan diliputi rasa takut yang amat sangat, Bagaimana tidak, karena para pemainnya akan mempertontonkan hal hal yang bersifat ekstrim dan diluar kebiasaan. Seperti memotong lidah dengan golok  tajam, makan bara api, menggoreng telor di kepala, menaiki tangga bambo yang anak tangganya terdiri dari deretan golok tajam,  menusuk perut dengan besi tajam atau menyiramkan air keras ke tubuh dan semuanya tanpa meninggalkan luka sedikitpun. Tapi apakah seni Debus ini asli milik daerah propinsi Banten, dan tidak ada ditempat lain?

Setelah penulis mencoba menelaah berbagai sumber mengenai kesenian Debus,  dapat disimpulkan, ternyata Debus bukan hanya milik Banten aja sich, seperti yang kita yakini selama ini. Daerah lain pun seperti Aceh, Minangkabau, Tedore dan beberapa daerah indoneisa bagian timur yang mengalami proses dakwah islamiyah juga memiliki kesenian tersebut, karena memang Debus dijadikan sebagai media dakwah oleh para mubaligh. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kata Debus berasal dari bahasa arab yaitu Dablus  yang berarti sejenis senjata penusuk yang terbuat dari besi runcing panjangnya sekitar 50-60 cm. Sedangkan ujungnya diberi tangkai kayu cukup besar yang terbuat dari kayu menyerupai silinder dengan garis tengah sekitar 20 cm yang dihiasi dengan rantai besi yang berfungsi sebagai tempat pemukul, yang alat pemukulnya terbuat dari kayu yang disebut gada.

Menilik dari segi sejarahnya, debus ini berasal dari nyanyian (puisi berbentuk doa) yang dibacakan oleh seorang Mursyid (guru tasawuf). Mursyid ini membacakan doa dan zikir dengn suara merdu dan lemah lembut dalam waktu yang relative agak lama, sampai dirinya dan muridnya tak sadarkan diri (fana Billah) Fana Billah inilah yang menjadi tujuan untuk mencapai kepuasan batin dan kelezatan jiwa. Dalam kondisi trance inilah  seseorang menjadi kebal terhadap segala jenis senjata tajam. Namun seiring dengan perkembangan zaman, oleh para penerus kesenian ini dalam setiap ritualnya lebih diorientasikan untuk mempertontonkan kekebalan tubuh atau kesaktian ragawi seseorang, dibandingkan untuk mencapai peleburan ego ragawi kepada zat yang maha adiluhung. Jika ada pertanyaan apa yang membedakan antara Debus Banten dengan Debus dari daerah lain,  mungkin terletak pada soal babakan sejarah  saja. Dimana Debus Banten selain digunakan sebagai media dakwah juga dijadikan media untuk untuk memompa semangat para pejuang kesultanan Banten dalam menghadapi kolonial Belanda, seperti yang telah dilakukan pada masa Sultan Maulana Hasanudin (Tahun 1532 – 1570).

By: Edih Sarto

Baca juga: Mengenal Sosok Sultan Ageng Tirtayasa

You May Also Like

About the Author: Edih Sarto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *